Arsip Tag: salaf

hukum membaca doa Qunut | Islam di Dadaku

hukum membaca doa Qunut | Islam di Dadaku.

 

 

 
Pertanyaan:
Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh Saya mau tanya tentang hukum membaca doa Qunut ketika sholat subuh, apa hukumnya terima kasih Wassalam
Jawaban:
 
Wa’alaikumus Salam Warohmatullahi Wabarokatuh
 
Sebelum menjawab, kami ingin menerangkan beberapa hal sebagai berikut :
1. Hukum asal masalah ibadah adalah terlarang hingga datang dalil yang memalingkannya.
2. Hak tasyri’ adalah hak Alloh dan Rasul-Nya, sehingga seorang hamba tidak boleh mensyariatkan perkara yang tidak pernah disyariatkan oleh Alloh danb Rasul-Nya.
3. Pokok-pokok dasar dalam pelaksanaan syariat adalah al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih, berdasarkan pemahaman para shahabat Ridlwanullahi ‘alaihim ajma’in.
4. Hadits dhaif tidak dapat digunakan sebagai hujjah di dalam masalah ibadah maupun fadha’ilul a’mal, menurut pendapat yang terpilih.
5. Pendapat para ulama, baik ulama madzhab maupun mujathidin bukanlah dalil, sehingga ditolak jika menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah dan diterima jika selaras dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, karena pendapat mereka hanyalah sebagai penguat nash-nash.
6. Banyaknya manusia yang melaksnakan suatu amalan bukanlah merupakan tolok ukur kebenaran. Bahkan mengikuti kebanyakan manusia merupakan suatu kesesatan (lihat : al-An’am : 116)
 
Dari kaidah-kaidah di atas, maka kami katakan bahwa dalil-dalil mengenai qunut shubuh secara terus menerus adalah dha’if dan bid’ah. Berikut ini kami nukilkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abi Malik al-Asyja’i, ia berkata kepada ayahnya : 
 
“Wahai ayahku, sesungguhnya engkau pernah sholat di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, di belakang Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali di daerha Qufah selama kurang lebih 5 tahun, apakah ada qunut shubuh terus menerus?”, ayahnya menjawab : “Wahai anakku, qunut shubuh itu bid’ah!”
(Shahih, HR Turmudzi (402), Ahmad (III/472, VI/394))
 
Dalam Subulus Salam (I/378) diriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah berkata : “Qunit shubuh itu dilarang”
Dan masih banyak dalil-dalil lainnya. Untuk memperluas dalil dalam masalah ini bisa merujuk kepada buku al-Ustadz Yazid bin Abdil Qodir Jawwas hafizhahullahu yang berjudul Ar-Rasail, jilid I.
Semoga bermanfaat.
 
Iklan

Shalat sunnat apa yang bisa dirutinkan

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Amalan yang terbaik adalah yang ajeg (kontinu) walau jumlahnya sedikit. Begitu pula dalam shalat sunnah, beberapa di antaranya bisa kita jaga rutin karena itulah yang dicintai oleh Allah. Apa saja amalan shalat sunnah tersebut? Berikut kami sebutkan keutamaannya, semoga membuat kita semangat untuk menjaga dan merutinkannya.

Baca lebih lanjut

Shalat Jum’at Haruskah dengan 40 Jama’ah?

Sebagaimana telah dijelaskan dalam tulisan yang telah lewat bahwa shalat Jum’at disyaratkan dengan berjama’ah di masjid. Sebagian ulama menyaratkan harus minimal 40 jama’ah agar bisa dinyatakan sah. Sebagian lainnya menyatakan dengan jumlah tertentu, 2, 3, 4, 12, dan Imam Ahmad sendiri menyaratkan 50 orang sebagaimana disebutkan dalam Al Mughni. Saat ini rumaysho.com akan meninjau masalah tersebut secara ringkas. Moga Allah mudahkan.

Shalat Jum’at dengan Berjama’ah

Dipersyaratkan demikian karena shalat Jum’at bermakna banyak orang (jama’ah). Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menunaikan shalat ini secara berjama’ah, bahkan hal ini menjadi ijma’ (kata sepakat) para ulama. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 27: 202)

Baca lebih lanjut

SALAM

SALAM

Salam sebagai tanda berakhirnya gerakan sholat, dilakukan dalam posisi duduk tasyahhud akhir setelah membaca do’a minta perlindungan dari 4 fitnah atau tambahan do’a lainnya.

“Kunci sholat adalah bersuci, pembukanya takbir dan penutupnya (yaitu sholat) adalah mengucapkan salam.”
(Hadits dikeluarkan dan disahkan oleh Al Imam Al-Hakim dan Adz-Dzahabi)

 

Caranya

Dengan menolehkan wajah ke kanan seraya mengucapkan do’a salam kemudian ke kiri.

Dari ‘Amir bin Sa’ad, dari bapaknya berkata: Saya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi salam ke sebelah kanan dan sebelah kirinya hingga terlihat putih pipinya.
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad, Muslim dan An-Nasa-i serta ibnu Majah)

 

Dari ‘Alqomah bin Wa-il, dari bapaknya, ia berkata: Aku sholat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau membaca salam ke sebelah kanan (menoleh ke kanan): “As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.” Dan kesebelah kiri: “As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi.”
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud)

Macam-macam Bacaan Salam

Kadang-kadang beliau membaca:

As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh— As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh

atau

As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh— As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah)

atau

As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi— As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi

(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Muslim)

atau

As Salamu’alaikum Wa Rahmatullahi— As Salamu’alaikum
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad dan An-Nasa-i)

atau

As Salamu’alaikum dengan sedikit menoleh ke kanan tanpa menoleh ke kiri
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani)

Gerak yang dilarang

 

Sering terlihat orang yang mengucapkan salam ketika menoleh ke-kanan dibarengai dengan gerakan telapak tangan dibuka kemudian ketika menoleh ke kiri tangan kirinya di buka. Gerakan tangan ini dilarang oleh shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Mengapa kamu menggerakkan tangan kamu seperti gerakan ekor kuda yang lari terbirit-birit dikejar binatang buas? Bila seseorang diantara kamu mengucapkan salam, hendaklah ia berpaling kepada temannya dan tidak perlu menggerakkan tangannya.” [Ketika mereka sholat lagi bersama Rasullullah, mereka tidak melakukannya lagi]. (Pada riwayat lain disebutkan: “Seseorang diantara kamu cukup meletakkan tangannya di atas pahanya, kemudian ia mengucapkan salam dengan berpaling kepada saudaranya yang di sebelah kanan dan saudaranya di sebelah kiri).
(Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Muslim, Abu ‘Awanah, Ibnu Khuzaimah dan At-Thabrani).

Diantara gerakkan bid’ah yang dilakukan saat salam adalah gerakkan yang dilakukan oleh orang syi’ah dengan menepukkan kedua tangannya di atas paha tiga kali, sebagai pengganti salam dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Hal seperti ini dilakukan oleh syi’ah Iran dan sekitarnya. Maksud dari gerakan itu adalah melaknat malaikat Jibril karena mereka mengatakan Jibril telah salah menyampaikan wahyu.


Duduk Tasyahhud Awwal dan Tasyahhud Akhir

DUDUK TASYAHHUD AWWAL DAN TASYAHHUD AKHIR

Tasyahhud awwal dan duduknya merupakan kewajiban dalam sholat

Tempat dilakukannya

Duduk tasyahhud awwal terdapat hanya pada sholat yang jumlah roka’atnya lebih dari dua (2), pada sholat wajib dilakukan pada roka’at yang ke-2. Sedang duduk tasyahhud akhir dilakukan pada roka’at yang terakhir. Masing-masing dilakukan setelah sujud yang kedua.

Baca lebih lanjut

Menuju Roka’at Berikutnya

MENUJU ROKA’AT BERIKUTNYA

Pada masalah ini ada dua tempat/kondisi, yaitu bangkit menuju roka’at berikut dari posisi sujud kedua -pada akhir roka’at pertama dan ketiga- dan bangkit dari posisi duduk tasyahhud awal -pada roka’at kedua.

> Bangkit/bangun dari sujud untuk berdiri (dari akhir roka’at pertama dan ketiga) didahului dengan duduk istirahat atau tanpa duduk istirahat, bangkit berdiri seraya bertakbir tanpa mengangkat kedua tangan. Ketika bangkit bisa dengan tangan bertumpu pada lantai atau bisa juga bertumpu pada pahanya.

Baca lebih lanjut